Peringkat 118 Dunia: Jujur-jujuran Soal Kondisi Internet Indonesia di 2026

Kita mulai dengan fakta yang agak pedih dulu.Indonesia punya lebih dari 230 juta pengguna internet. Salah satu angka tertinggi di dunia. Tapi soal kecepatan internetnya? Kita masih nangkring di sekitar peringkat 114–118 dunia untuk fixed broadband, tergantung bulan pengukurannya. Dan di Asia Tenggara, kita ada di urutan ke-9 dari 10 negara.
Di bawah Laos. Di bawah Kamboja.
Negara yang infrastrukturnya jauh lebih kecil dari kita.Ini bukan tulisan untuk menghujat atau mendramatisasi. Ini cuma ngobrol jujur soal kondisi internet Indonesia sekarang, ke mana arahnya, dan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Angkanya Seperti Apa Sebenernya?
Berdasarkan data Speedtest Global Index dari Ookla, kecepatan rata-rata fixed broadband Indonesia per Maret 2026 berada di angka sekitar 45,91 Mbps. Naik tipis dari Desember 2025 yang hanya 44,38 Mbps.
Kedengarannya lumayan, tapi tunggu dulu. Ini perbandingannya dengan negara-negara ASEAN:

Kita ungguli Myanmar. Itu saja yang bisa jadi penghiburan dari sisi ASEAN.
Vietnam, negara yang harga internetnya bahkan lebih murah dari kita, punya kecepatan enam kali lebih cepat. Kamboja yang sering kita anggap lebih tertinggal, internetnya sudah melampaui 100 Mbps.
Targetnya Sendiri Bilang Apa?
Pemerintah lewat Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) sebenarnya tidak diam-diam soal ini. Dalam Rencana Strategis 2025–2029, mereka menargetkan kecepatan fixed broadband Indonesia harus mencapai 45 hingga 64 Mbps di tahun 2026.
Menkomdigi Meutya Hafid juga menyebutkan target kecepatan mobile broadband sebesar 80 Mbps untuk 2026, naik dari capaian 63,51 Mbps di 2025. Untuk fixed broadband, rata-rata kecepatan di ibu kota provinsi tercatat mencapai 51,84 Mbps.
Tapi ada dua hal yang perlu dicatat:
Pertama, angka Komdigi dan angka Speedtest beda. Data pemerintah mengukur di ibu kota provinsi yang infrastrukturnya memang lebih baik. Speedtest mengukur rata-rata nasional, termasuk daerah-daerah yang koneksinya masih jauh dari ideal.
Kedua, target jangka panjang yang sesungguhnya adalah 100 Mbps. Dan kita sekarang baru di separuhnya.
Kenapa Internet Kita Masih Segini?
Ini pertanyaan yang jawabannya tidak simpel. Bukan karena satu pihak yang salah, tapi karena ada beberapa faktor yang saling berkaitan.
Geografinya nggak main-main
Indonesia itu 17.000 pulau lebih. Menarik kabel fiber optik ke seluruh pelosok negeri bukan perkara mudah atau murah. Bandingkan dengan Singapura — satu kota kecil yang padat, mudah dicakup infrastruktur dalam waktu singkat.
Jaringan fiber optik untuk layanan fixed broadband saat ini baru mencakup 72,22 persen atau sekitar 5.253 kecamatan. Pemerintah menargetkan peningkatan ke 82 persen pada 2026. Artinya masih ada hampir 20 persen kecamatan yang belum terjangkau fiber optik sama sekali.
Harganya murah, tapi ada trade-off
Berdasarkan laporan Global Broadband Price League 2026, Indonesia menempati peringkat 12 dunia sebagai negara dengan harga internet fixed broadband termurah, dan peringkat kedua di Asia Tenggara. Harga rata-rata internet fixed broadband berada di kisaran USD 10,66 atau sekitar Rp185 ribu per bulan.
Harga murah itu bagus untuk akses, tapi juga berarti margin yang lebih tipis buat ISP untuk investasi infrastruktur. Nggak bisa minta kecepatan setara Vietnam kalau harganya jauh lebih rendah dari Vietnam.
Mayoritas pengguna masih pakai paket yang lambat
ISP-ISP besar seperti Biznet dan MyRepublic sebetulnya sudah punya infrastruktur yang mampu deliver ratusan Mbps. Biznet mengklaim teknologinya sudah mendukung kecepatan hingga 1 Gbps, dan kapasitas 400–500 Mbps sudah sangat mudah untuk mereka deliver. Tapi mayoritas pelanggan masih berlangganan di paket 30–50 Mbps karena kebutuhan dan kemampuan beli yang berbeda-beda.
Ada Kabar Baiknya Nggak?
Ada, dan ini penting untuk diakui juga.
Trennya bergerak ke arah yang benar, meski pelan. Di awal 2026, Indonesia tercatat naik empat peringkat di kategori fixed broadband ke posisi 114 dari 152 negara, dengan kecepatan rata-rata 44,62 Mbps. Untuk mobile broadband, Indonesia bahkan sudah mulai mengalahkan Filipina dan Laos.
Penetrasi jaringan 4G sudah mencapai 98,95 persen populasi Indonesia, dan layanan 5G sudah menjangkau 6,33 persen luas pemukiman, melampaui target RPJMN sebesar 4,4 persen.
Program Kampung Internet yang diluncurkan 2025 juga terus diperluas, dari 1.194 titik menuju target 2.194 titik di 2026. Ini penting karena kecepatan internet nasional yang rendah sebagian besar disebabkan oleh daerah-daerah terpencil yang belum terjangkau infrastruktur layak.
Dan dari sisi ISP, sejumlah penyedia layanan internet menyatakan kesiapan memenuhi target 45–64 Mbps yang ditetapkan pemerintah, dengan infrastruktur yang diklaim sudah siap mendukung kecepatan jauh di atas target tersebut.
Lalu Kita Mau ke Mana?
Target 100 Mbps itu bukan mimpi yang mustahil. Vietnam sudah di sana. Kamboja sudah hampir. Thailand sudah lewat.
Tapi untuk sampai ke sana, ada beberapa hal yang perlu bergerak bersamaan: percepatan pembangunan fiber optik ke daerah-daerah yang belum terjangkau, dorongan agar lebih banyak masyarakat upgrade ke paket yang lebih cepat, dan regulasi yang mendukung investasi infrastruktur jangka panjang.
Yang menggembirakan, semua pihak, pemerintah, ISP, dan industri tampaknya sudah sadar bahwa ini adalah prioritas. Tinggal soal seberapa cepat eksekusinya.
Untuk Kamu yang Penasaran Soal Internet di Rumah
Kalau kamu merasa internet rumahmu terasa lambat, coba cek dulu di Speedtest.net, apakah kecepatannya sesuai paket yang kamu bayar atau tidak. Kalau ternyata jauh di bawah, itu layak dikomplainkan ke ISP-mu.
Dan kalau kamu memang butuh kecepatan lebih untuk kerja dari rumah, meeting video, atau gaming, mungkin sudah saatnya upgrade ke paket yang lebih tinggi. Dengan harga internet yang termasuk termurah di Asia Tenggara, selisih biayanya seringkali nggak sebesar yang kita bayangkan.